Memasuki awal Ramadhan selalu ada yang unik, ada sebuah kekhasan yang terjadi dan menjadi semacam tradisi bagi sebagian besar masyarakat Betawi yang tinggal di Jabodetabek termasuk orang Bekasi. Semua orang mulai disibukan untuk mapag datangnya bulan suci Ramadhan dengan berbagai aktivitas. Sebagian kaum ibu sibuk pergi belanja ke pasar tradisional untuk membeli berbagai keperluan makan sahur puasa hari pertama. Hampir semua pasar tradisional dipadati oleh orang yang belanja keperluan menyambut munggahan.

Munggahan itu sendiri entah sejak kapan terjadinya, namun telah menjadi sebuah tradisi yang melekat dan tak lekang dimakan waktu serta peradaban jaman yang begitu dahsyat. Bagi masyarakat Betawi – meskipun kadang dibilang “norak” atau “kampungan”, melestarikan budaya warisan leluhur adalah syah-syah saja dan sebagai bukti nyata bahwa nenek moyang kita begitu sederhana dan bersahaja namun penuh dengan kepatuhan dan disiplin yang tinggi, dalam bahasa masyarakat modern mungkin disebut integritas. Pasar tradsional dan kini berubah menjadi pasar modern tetap diserbu orang untuk berbelaja keperluan ngolah atau memasak. Jika di pasar tradisional masih dapat kita jumpai berbagai macam bahan lauk pauk jaman bareto, semacam ikan japuh, ikan perek, ikan sepat siem, ikan tembang, ikan teri jambrong, hingga gabus kering asin. Sedangkan berbagai jenis lalapan mulai dari lengkiyo, daun mede, daun popohan hingga daun labuh laris manis diborong warga. Bahkan ada juga yang ngongkon beli daging sapi, daging kebo atau daging ayam kampung. Sebagian lagi sibuk beli daun ketupat buat disandingin dengan sayur pepaya parut disantenin. Kalo sudah makan ini, mertua lewat dijamin kaga keliatan. Sedangkan di pasar modern sebagai orang yang sudah merasa lebih gaya dan ngotaan dikit menghabiskan uang belanja disana. Di pasar modern semua tersaji lebih rapi, teratur, bersih, kaga bau, namun belum terjamin berformalin atau tidak? Disanalah sebagain orang yang tinggal di kompleks menghabiskan uang belanja. Sementara bagi orang yang masih asli tinggal diperkampungan lebih uplek jika belanja di pasar senggol alias pasar tradisional yang harganya bisa ditawar.

Menjelang ashar biasanya kaum perempuan sibuk ngolah makanan dan lauk pauk untuk disantap pada malam harinya. Tidak jarang menjelang malam hari, biasanya dilakukan setelah ba’da solat magrib ataupun ba’da solat isya – masyarakat melaksanakan tardisi rowahan, semacam kegiatan sedekah – pengajian dan tahlilan yang dipimpin oleh seorang ustadz untuk mengirimkan doa kepada para ahli kubur. Semalaman itu biasanya para ustadz maupun amil kebanjiran order untuk memimpin doa atau tahlilan. Bahkan pagi harinya tadi banyak pula orang yang melakukan jiarah kubur dan nyekar di makam. Saat itulah tukang kembang dan air mawar ikutan panen rejeki. Budaya dan tradisi semacam ini tentu saja memberikan nilai positif bagi yang melakukannya.

Demikian munggahan terus bergulir, terus berakrobat ditengah hiruk pikuknya peradaban modern yang justru kurang jelas juntrungannya. Dan sebagain anak serta remaja sekarang tidak mampu lagi memahami budaya para orangtuanya – bahkan tidak sedikit yang memandang bahwa itu merupakan budaya norak dan malu-maluin. Mungkin mereka juga berfikir budaya munggahan bikin repot.

Ramadhan datang. Bulan suci penuh ampunan, penuh rahmat dan maghfirah. Menjelang isya dilaksanakan salah tarawih. Hampir semua orang, tua muda, anak kecil, kakek nenek, semua berdatangan menuju mushola dan mesjid. Malam itu, dijamin semua mushola dan mesjid tidak muat oleh jamaah. Mushola dan mesjid harus menyediakan tenda serta terpal tambahan untuk menampung jamaah yang akan menunaikan sholat tarawih berjamaah. Alhamdulilah. Namun sayang- suasana semacam itu hanya bertahan hingga minggu pertama, selanjutnya mushola dan mesjid kembali kehilangan jamaahnya yang mundur satu demi satu.

Dengan alasan kesibukan. Biarlah. Ibadah adalah urusan pribadi dan kita telah menggajak dan mengingatkan. Apalagi menjelang puasa memasuki dua pertiga hari terakhir, semua orang mulai disibukkan dengan kegiatan yang lain. Banyak orang mulai sibuk membuat kue dan makanan. Berbagai kue kering seperti rengginang, kembang ros, jipang, akar kelapa sudah mulai memenuhi toples dan kaleng. Sebagain lagi sibuk membuat kue basah seperti geplak, uli ketan, dodol, wajik dan manisan. Seru dan mengasyikan.

Sementara itu masayarakat yang mengaku dirinya lebih modern lebih suka menghabiskan uangnya dengan belanja yang serba instant, kue kalengan, biskuit ataupun minuman botol. Mereka lebih suka mengemasnya dalam bentuk paket atau parsel. Selain kelihatan lebih bagus, rapi dan teratur harganyapun lebih lumayan. Namun gengsinya juga ikut mendukung. Kue-kue dan minuman itulah yang nantinya akan mereka kirimkan kepada orang tua maupun keluarga dalam kegiatan nyorog. Itu dilakukan oleh masyarakat yang kebetulan tidak pulang kampung. Bagi masyarakat uraban – alias orang luar Jakarta yang kebetulan mencari rejeki dan tinggal di ibukota melakukan pulang kampung atau mudik. Riuh rendah mudik bahkan sudah terasa dua bulan sebelum hari raya itu tiba. Hampir semua tiket bus, kereta api bahkan kapal laut dan pesawat terbang sudah ludes diborong orang. Bahkan pemerintahpun siap mengerahkan polisi dan TNI untuk menjaga, mengatur serta mengakomodir proses mudik tersebut.

Mudik sebuah tradisi yang juga terus terjadi hingga kapan pun. Meskipun saat ini disinyalir budaya mudik sudah mulai tergantikan dengan hadirnya teknologi komunikasi yang makin canggih. Sekarang banyak orang menggunakan ponsel untuk mengucapkan selamat hari raya, mengirim paket atau parsel lewat jasa kargo, ngirim sms, BBM, WhatsApp dan sosmed lainnya. Sementara bagi orang pribumi – khususnya orang Betawi ada satu kegiatan lagi yaitu pasar balikan yang biasanya terjadi satu hari sebelum hari raya. Kegiatan belanja untuk mengolah makanan serta lauk pauk yang akan dibagikan kepada tetangga, sanak keluarga dalam kegiatan nyorog. Setelah sholat ied di pagi hari barulah dilanjutkan dengan kegiatan silaturahim sungkeman dirasa kurang afdol kalo orangnya kaga ketemu alias dateng.

Orangnya kudu nyogrog. Karena pada hakikatnya silaturahim bukanlah sekedar oleh-oleh atau buah tangan berupa parsel atau angpou yang sampai tujuan. Yang lebih memiliki nilai adalah ketika orang perorangnya bertemu, bertegur sapa, berjabat tangan. Itulah hakikatnya silaturahim. Namun apa boleh dikata budaya modern telah mengikis dan melunturkan itu semua. Namun bagi kita yang masih memiliki kepedulian akan besarnya makna, seyogyanyan silaturahim, budaya munggah, budaya nyorog masih tetap dipertahankan tentu saja dengan sentuhan yang lebih modern. (MY)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here