Pilarrepublik.id – PRODUSER dari Ants Project, Antistin, rumah produksi yang menggarap film Babe: Dari Leiden ke Bekasiberpendapat, film itu laik ditonton bagi pelajar.

Antistin beralasan, film yang akan tayang di bioskop itu menceritakan Bekasi dan mengandung nilai edukasi dan sejarah. Katanya, dalam film itu seni, budaya, kuliner serta kultur masyarakat Betawi-Bekasi diperkenalkan kepada khalayak luas.

Ir Antistin, Produser ekskutif film BABE
“Dengan sajian drama percintaan dan komedi memang film Babe ini lebih banyak mengulas tentang keseharian masyarakat Betawi-Bekasi dengan logat dan kulturnya dengan dibumbui percintaan ala anak muda agar lebih segar ditonton khususnya anak remaja,” ucapnya.

Ia juga berharap film BABE dapat menjadi kado untuk Kota Bekasi yang akan segera berulang tahun.

“Semoga film ini mejadi kado terindah menyambut HUT Kota Bekasi ke 22 pada 10 Maret 2019 mendatang,” harap Antistin selaku Produser Film BABE dari Leiden ke Bekasi .

Sementara itu, Kepala Disparbud Kota Bekasi Zarkasih mengungkapkan, Film BABE dari Leiden ke Bekasi menjadi contoh bagaimana pembangunan yang pesat dapat dilakukan tanpa harus menggerus kebudayaan lokal.

“Pembangunan tidak harus menggerus kebudayaan yang ada, tapi jadikan kebudayaan sebagai semangat untuk membangun,” ujar Zarkasih di XXI Mega City Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Dia mengungkapkan, Kota Bekasi saat ini terdiri dari berbagai kultur suku dan budaya. Meski warga Betawi Bekasi tidak lagi menjadi dominasi utama jumlah penduduk Kota Bekasi saat ini, tetapi budaya Betawi Bekasi tetap mampu bertahan di tengah Kota Patriot.

“Budaya Bekasi masih tidak kehilangan eksistensinya,” kata Zarkasih.

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi Alie Fauzi menilai Film BABE dari Leiden ke Bekasi adalah film yang pantas untuk diapresiasi. Pasalnya, banyak pesan yang disampaikan dalam film tersebut tentang Bekasi.

“Banyak sisi budaya yang dimuat. Sukses, dan kalau perlu bisa berlanjut untuk film-film lainnya karena Bekasi ini banyak sekali punya cerita,” kata Alie.

Hal senada juga dikatakan budayawan Bekasi, Kong Haji Usman. Menurutnya, Film Babe ini banyak nilai edukasi, pesan moral, budaya, destinasi wisata kota Bekasi, sesuai dengan muatan lokal SBB (Sejarah bahasa & budaya Bekasi), sehingga layak untuk ditonton

“Bukan hanya hiburan saja, justru difilm Babe ini lebih banyak pesan moralnya. selain memang lokasi pembuatannya juga memang semua didaerah Bekasi, para pemainnya juga banyak melibatkan budayawan. Film ini Sekaligus dalam rangka melestarikan kearifan lokal,Jadi penting banget untuk ditonton oleh semua lapisan masyarakat,”. Ujar Kong Usman.

Film BABE dari Leiden ke Bekasi diadaptasi dari Novel Klasik Berbahasa Bekasi ‘Semur Jengkol Cinta Made in Belanda’ karya Majayus Irone seorang budayawan yang juga merupakan ASN di Pemkot Bekasi.

Film ini juga menjadi upaya implementasi Muatan Lokal Bekasi, Sejarah Budaya Bekasi (SBB) terkonsentrasi pada mata pelajaran IPS, Bahasa Indonesia, dan Seni Budaya. Muatan lokal ini diajarkan untuk siswa tingkat SD dan SMP sejak Tahun Pelajaran 2017/2018.

Sejumlah nama artis dan budayawan beken turut berperan dalam Film BABE dari Leiden ke Bekasi seperti Dwi Andhika, Zoe Jackson, Ridwan Saidi, Harry Bond Jr, Otis Pamutih, Hj. Kartini, Hendrik Bibier, Ahmad Pule, Andhika Aulia, hingga Raja Situn Kong Guntur Elmogas.

“Semoga film ini mejadi kado terindah menyambut HUT Kota Bekasi ke 22 pada 10 Maret 2019 mendatang,” harap Antistin selaku Produser Film BABE dari Leiden ke Bekasi (dhit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here