Pilarrepublik.id – Dikemas dalam kegiatan diskusi “Menakar Visi & Misi Calon Legislatif (Caleg) Dapil 1 Pada Pertarungan Pemilu 2019” yang gagas oleh DPD Gerakan Pemuda Nusantara (GPN) Kota Bekasi, DPD KNPI Kota Bekasi dan Karang Taruna se Kelurahan Bekasi Timur di Gedung Graha Wijaya Kusuma, Sabtu (9/3/2019).

Dalam kesempatan ini, panita menghadirkan calon-calon baru di Dapil tersebut. Mereka adalah Alit Jamaludin (PKB), Nicodemus Godjang (PDIP), Wiwiek Hilwiyah Arief (Golkar), Wiwit Subagyo (NASDEM), Endrachman Harto Wijaya (Berkarya), Sukismo (PKS), Hasadungan Sirait (Perindo), Ruhut Timothy J Panjaitan (PSI) dan Estomihi (Hanura).

Sedangkan, Panelis diambil dari kalangan pengamat yaitu Benny Tunggul dengan moderator Muhammad Lukman dari perwakilan Rukun Jurnalis Bekasi (Rujuk).

Pemilihan legislatif (Pileg) 2019 khususnya di Kota Bekasi sudah mulai nampak ragam persiapannya. Berbagai latar belakang para caleg cukup menarik perhatian.

Ngobrol politik ini juga sekaligus mencari rekam jejak dan kapasitas mereka di dunia politik sekaligus memberikan pembelajaran politik bagi konstituennya.

Dalam diskusi ini, para calon wakil rakyat ini sangat setuju untuk berkontestasi politik secara sehat. Bahkan ketiganya menolak untuk melakukan money politics yang menjadi akar masalah.

Dalam diskusi ini, Alit Jamaludin yang maju dari kalangan pemuda pun secara blak-blakan mengakui tingkat money politic sudah dirasa. Namun, ia optimis jika hal tersebut tidak berpengaruh di kalangan masyarakat Bekasi Timur dan Bekasi Selatan.

Dalam kesempatan ini, Alit akan mendorong 3 Perda untuk dikuatkan di kota dengan julukkan Kota Patriot ini. Diantaranya adalah Perda Kota Layak Anak dan Ibu, Perda Pasar Tradisional dan Perda Penambahan Jam Sekolah untuk tingkat SD dan SMP.

“Kota Layak Anak adalah indikator kota bahagia. Caranya mudah, pemerintah bisa menggandeng CSR untuk membangun bangunan ramah lingkungan,” ujarnya.

Soal penambahan jam pelajaran tingkat SD dan SMP, Alit mempunyai argumentasi jika saat ini kaum milenials sudah bergantung pada telepon pintar.

Menurutnya hal tersebut dapat mengganggu pendidikan akhlak. Karenanya, perlu jam pelajaran khusus sedianya di pesantren.

“Pentingnya pendidikan akhlak itu yang membuat saya untuk memperjuangkan, saya ingin seluruh anak bangsa bisa membaca Alquran, maka dari itu saya optimis dengan menjadi wakil rakyat seluruh aspirasi yang sudah saya tampung akan diwujudkan,” ungkapnya.

Sementara, Niodemus Godjang mengaku ditunjuk oleh partainya untuk mengisi slot dapil Bekasi Timur-Bekasi Selatan menuju kursi DPRD Kota Bekasi.

Meskipun begitu, ia sudah memahami seluk beluk dapil apabila terpilih ia akan memperjuangkan sesuai janjinya.

“Ya saya tidak banyak janji, karena janji adalah utang, jangan banyak berjanji tapi berbuat,” ungkapnya.

Para Caleg sepakat dalam Pileg ini harus bersaing secara sehat. Sebab menjadi wakil rakyat adalah tanggung jawab besar demi kesejahteraan masyarakat.

Panitia diskusi, Leonardo mengakui, pihaknya konsen terhadap perkembangan politik di Kota Bekasi khususnya di Dapil I Bekasi Timur-Bekasi Selatan.

Diskusi politik dengan menghadirkan narasumber tersebut dinilai menjadi sarana penyampaian informasi agar masyarakat tahu bahwa sosok-sosok yang ditampilkan ini adalah calon wakil mereka.

“Gelaran diskusi ini akan terus dilakukan, dan rencana nanti akan digelar kembali,” ungkapnya.

Disamping itu, Ketua Rujuk Bekasi, Kartono menilai meski bukan perkara mudah untuk mengenalkan diri pada masyarakat, semangat dari para caleg yang baru berkecimpung di dunia politik ini bisa dibilang patut diapresiasi.

“Tentu para caleg ini menjadi muka baru dalam perpolitikan di Kota Bekasi, sehingga nanti terpilih benar-benar menjalankan visi dan misi sesuai janjinya,” ujarnya.

Disisi lain menurut pria yang akrab disapa Tonche ini, wakil rakyat juga harus tahu kebijakan daerah harus berpihak kepada masyarakat. (Ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here